UGAL UGEL NEGERI DONGENG

UGAL UGEL NEGERI DONGENG

Negeri ini tidak akan runtuh hanya karena kemiskinan sumber daya. Negeri ini juga tidak akan hancur hanya karena perbedaan pandangan. Namun sebuah bangsa dapat mengalami kemunduran ketika urusan publik dijalankan secara ugal-ugalan dan ugel-ugelan.

Ugal-ugalan adalah ketika keputusan diambil secara serampangan, tanpa pertimbangan yang matang, tanpa arah yang jelas, dan tanpa rasa tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

Sedangkan ugel-ugelan adalah ketika persoalan yang seharusnya serius diperlakukan layaknya permainan; ketika kepentingan rakyat dipertukarkan dengan pencitraan, ketika amanah dianggap panggung hiburan, dan ketika kebijakan kehilangan pijakan moral serta akal sehat.

Apabila keadaan seperti ini dibiarkan terus berlangsung, maka kerusakan yang muncul bukan lagi bersifat sementara, melainkan menjadi permanen dan akut. Kerusakan institusi, melemahnya etika publik, hilangnya keteladanan, serta lunturnya kepercayaan masyarakat akan menjadi warisan yang mahal bagi generasi mendatang.

Karena itulah PECIMERAH hadir sebagai Rumah Peradaban. Bukan sebagai kekuatan politik, bukan pula sebagai kelompok kepentingan, melainkan sebagai komunitas penggerak moral yang berupaya menjaga nyala kesadaran kebangsaan.
Di tengah derasnya arus pragmatisme, PECIMERAH percaya bahwa moralitas adalah benteng terakhir sebuah bangsa. Ketika hukum dapat ditafsirkan, kekuasaan dapat berganti, dan kepentingan dapat berubah, maka moralitas tetap menjadi kompas yang menunjukkan arah benar dan salah.

Bangsa yang maju bukan semata-mata bangsa yang memiliki gedung tinggi, teknologi canggih, atau pertumbuhan ekonomi besar. Bangsa yang benar-benar maju adalah bangsa yang memiliki karakter, adab, integritas, dan peradaban yang tinggi.

Oleh sebab itu, PECIMERAH memosisikan diri sebagai salah satu penjaga gawang terakhir moralitas bangsa, mengingatkan ketika banyak yang lupa, menyuarakan ketika banyak yang diam, dan merawat nilai ketika banyak yang mulai meninggalkannya.

Sebab tanpa moralitas, kemajuan hanyalah kemewahan yang rapuh. Namun dengan moralitas dan peradaban, sebuah bangsa akan tetap tegak berdiri, bahkan di tengah badai zaman.

“Peradaban tidak runtuh karena musuh dari luar, tetapi karena kelalaian menjaga nilai dari dalam.”

[ NgeriungGirang ]

Artikel Terkait

PeciMerah untuk Jakarta: Berbaur, Berbagi, dan Menjaga Warisan Kota

PeciMerah untuk Jakarta: Berbaur, Berbagi, dan Menjaga Warisan Kota

Pada momentum Idulkurban 1447 H, PeciMerah berkontribusi langsung di delapan titik kecamatan di wilayah Jakarta Barat,…
PELATIHAN PENYEMBELIHAN HEWAN QURBAN

PELATIHAN PENYEMBELIHAN HEWAN QURBAN

Dalam upaya menjaga kemurnian syariat, meningkatkan kualitas pangan halal, serta membangun sumber daya manusia yang profesional…
PROGRAM PEMBERDAYAAN DAN PENANGGULANGAN SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT BERSAMA PECIMERAH

PROGRAM PEMBERDAYAAN DAN PENANGGULANGAN SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT BERSAMA PECIMERAH

Dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026, mari kita maknai kebangkitan bukan hanya sebagai semangat…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *