• 20 Agustus 2026
  • No Comment
  • 15

UNDANGAN TERBUKA

UNDANGAN TERBUKA

NGERIUNG GIRANG

Dialog Budaya & Kebangsaan, Rumah Peradaban

“TERLAHIR UNTUK TUMBUH MERDEKA”

Setiap kelahiran membawa pesan tentang masa depan.

Nabi Muhammad ﷺ lahir membawa risalah yang mengangkat manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kebodohan menuju ilmu, dari perpecahan menuju persaudaraan, dan dari kesombongan menuju kemuliaan akhlak.

Bangsa Indonesia pun lahir sebagai bangsa merdeka.

17 Agustus 1945 bukan sekadar tanggal dalam sejarah. Ia adalah tanda kelahiran sebuah bangsa yang memilih berdiri di atas kaki sendiri, menentukan nasibnya sendiri, dan membangun masa depannya sendiri.

Namun, kemerdekaan bukanlah garis akhir.

Kemerdekaan adalah kelahiran. Dan setiap yang lahir mempunyai kewajiban untuk tumbuh.

Karena itu, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, pertanyaan kita bukan hanya:

“Apakah kita sudah merdeka?”

Tetapi:

“Sudahkah kita tumbuh sebagai bangsa yang merdeka?”

Merdeka dari kebodohan.
Merdeka dari keserakahan.
Merdeka dari perpecahan.
Merdeka dari kehilangan jati diri.
Dan merdeka untuk membangun kehidupan yang berilmu, berbudaya dan beradab.

Di Jakarta, pertanyaan itu menjadi semakin penting.

Jakarta bukan sekadar kota tempat gedung-gedung tinggi berdiri. Jakarta adalah ruang perjumpaan berbagai manusia, suku, agama, kebudayaan dan sejarah.

Di tanah inilah masyarakat Betawi tumbuh sebagai hasil panjang perjumpaan berbagai unsur Nusantara. Karena itu, kebetawian bukan sekadar identitas, tetapi juga warisan tentang keterbukaan, persaudaraan dan kemampuan hidup bersama dalam keberagaman.

Maka Jakarta tidak cukup hanya menjadi kota pembangunan.

Jakarta harus tumbuh menjadi Kota Peradaban.

Kota yang maju ekonominya, tetapi tidak kehilangan solidaritasnya.

Kota yang modern teknologinya, tetapi tidak tercerabut dari budayanya.

Kota yang tinggi gedungnya, tetapi juga tinggi adab warganya.

Di situlah Ngeriung Girang hadir.

Ngeriung adalah berkumpul.
Girang adalah kegembiraan.

Namun Ngeriung Girang bukan sekadar berkumpul dan berbincang.

Ngeriung Girang adalah ruang perjumpaan, ruang belajar, ruang bertukar gagasan dan ruang memperkuat persaudaraan warga Jakarta.

Ia adalah kampus terbuka bagi masyarakat, tempat setiap orang boleh datang membawa pengalaman, pengetahuan dan kegelisahannya; lalu duduk bersama untuk saling mendengar, saling menguatkan dan mencari jalan bagi masa depan.

Sebab terkadang ilmu yang paling penting tidak lahir dari ruang kelas.

Ia lahir dari manusia yang duduk berhadap-hadapan dan bersedia mendengarkan satu sama lain.

Pada bulan Mulud yang bertepatan dengan bulan kemerdekaan ini, Ngeriung Girang mempertemukan dua momentum besar:

Maulid Nabi Muhammad ﷺ dan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Keduanya mengajak kita merenungkan satu kata:

KELAHIRAN.

Nabi ﷺ lahir membawa rahmat.

Indonesia lahir membawa cita-cita kemerdekaan.

Tetapi kelahiran saja tidak cukup.

Yang lahir harus tumbuh.

Dan Indonesia harus tumbuh menjadi bangsa yang berdaulat, maju, adil, berbudaya dan beradab.

Maka mari kita duduk bersama dalam suasana Ngeriung Girang.

Mari kita bicara tentang Nabi Muhammad ﷺ, bukan sekadar untuk mengenang kelahirannya, tetapi untuk belajar dari akhlak dan risalahnya.

Mari kita bicara tentang kemerdekaan, bukan sekadar untuk mengenang perjuangan para pendahulu, tetapi untuk meneruskan cita-citanya.

Mari kita bicara tentang Betawi, bukan hanya untuk mempertahankan identitas, tetapi untuk menjadikannya kekuatan budaya dalam membangun Jakarta.

Dan mari kita bicara tentang Indonesia, bukan hanya tentang keadaan hari ini, tetapi tentang Indonesia yang ingin kita wariskan kepada generasi yang akan datang.

Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun masa depan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membawa sejarah sebagai kebijaksanaan untuk menuntun masa depan.

Kita ingin tumbuh dengan akar yang kuat, pikiran yang terbuka dan langkah yang jauh.

Dari Betawi untuk Jakarta.
Dari Jakarta untuk Indonesia.

Dari kebudayaan menuju peradaban.

Dari persaudaraan menuju kekuatan.

Dari gagasan menuju gerakan.

Dan dari gerakan menuju Indonesia Berperadaban.

MARI NGERIUNG
MARI BERSILATURAHIM
MARI SALING MENGUATKAN
MARI BELAJAR BERSAMA
MARI MEMBANGUN PERADABAN

Dengan penuh hormat, Rumah Peradaban Pecimerah Betawi mengundang seluruh warga Jakarta, masyarakat Betawi, tokoh masyarakat, budayawan, pemuda, komunitas, akademisi, serta seluruh anak bangsa yang peduli terhadap masa depan Jakarta dan Indonesia untuk hadir dalam:

NGERIUNG GIRANG

Dialog Budaya & Kebangsaan

“TERLAHIR UNTUK TUMBUH MERDEKA”

Selasa, 25 Agustus 2026 19.00 WIB s.d. selesai

Bulan Mulud 1448 H

Tempat:
Area Mall Daanmogot
Markas Besar PECIMERAH
Jakarta Barat

Mari hadir bukan sekadar sebagai peserta.

Datanglah sebagai saudara.
Duduklah sebagai sahabat.
Berbicaralah sebagai warga.
Berpikirlah sebagai anak bangsa.

Sebab masa depan Jakarta tidak hanya ditentukan oleh mereka yang berada di balik meja kekuasaan.

Masa depan Jakarta juga lahir dari kesadaran warganya.

Dan masa depan Indonesia tidak cukup hanya dibangun dengan kecerdasan.

Ia harus dibangun dengan ilmu, budaya, persaudaraan dan adab.

NGERIUNG GIRANG
Kumpul Hati, Kuatkan Negeri Bangun Peradaban

DARI AKAR BUDAYA, TUMBUH PERADABAN.
DARI KEMERDEKAAN, BERBUAH MASA DEPAN.
JAKARTA KOTA PERADABAN INDONESIA BERPERADABAN

Betawi Gotong!

Artikel Terkait

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81

Hari ini, tugas kita bukan lagi mengangkat senjata di medan perang. Tugas kita adalah mengangkat martabat…
FILOSOFI  PECIMERAH SEBAGAI RUMAH PERADABAN

FILOSOFI PECIMERAH SEBAGAI RUMAH PERADABAN

Rumah Peradaban PeciMerah lahir dari keyakinan bahwa peradaban tidak dibangun oleh gedung yang megah, melainkan oleh…
NGERIUNG GIRANG PECIMERAH EDISI 95

NGERIUNG GIRANG PECIMERAH EDISI 95

Mari hadir bersama para budayawan, tokoh masyarakat, akademisi, pemuda, dan seluruh anak bangsa dalam ruang dialog…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *