Kerak Telor

Kerak Telor

  • Kuliner
  • 8 Oktober 2022
  • No Comment
  • 292

Makanan ini terbuat dari nasi ketan aron atau setengah matang, yang kemudian dicampur dengan telor (bisa telor ayam atau telor bebek) beserta bumbunya. Setelah matang dimakan dengan taburan serundeng dan bawang goreng. Cara masaknya juga cukup unik. Ketika kerak telor telah setengah matang maka wajan pemasaknya dibalikkan dan kerak telor dibiarkan langsung terkena panas arang dari anglo sehingga kemudian menjadi sedikit gosong. Mungkin ini yang dinamakan keraknya…

Dari dulu hingga kini yang terlihat untuk menjual biasanya adalah seorang bapak-bapak tua. Entah kenapa mungkin sang anak tak mau lagi meneruskan usaha bapaknya karena mendapat pekerjaan yang lebih baik atau karena malu.

Pernah denger makanan Betawi yang namanya kerak telor?
Yang pasti bukan telor gosong yang terus jadi kerak… hehehe
Makanan ini selalu ada di arena Jakarta Fair, dari tahun ke tahun, mulai dari jamannya masih di Monas hingga kini pindah ke Kemayoran.

Entah sampai kapan kerak telor ini akan bertahan di tengah derasnya serbuan fast food barat seperti McD, Bureger King, Pizza atau juga Japanese food seperti HokBen yang kini ada di mana-mana. Bahkan saat ini tampaknya lebih bangga menjadi bagian dari kapitalis kuliner barat seperti Burger Blenger atau Japanese food lokal seperti Roku-Roku ketimbang melestarikan kuliner lokal seperti kerak telor ini.

Artikel Terkait

PECIMERAH: PANJI MORAL DI SAAT DARURAT AKHLAK

PECIMERAH: PANJI MORAL DI SAAT DARURAT AKHLAK

Pecimerah berdiri di antara tangan-tangan sejarah, diangkat bukan untuk dipuja, melainkan untuk dipikul sebagai amanah. Sebab…
PECIMERAH DAN GAGASAN INDONESIA BERPERADABAN

PECIMERAH DAN GAGASAN INDONESIA BERPERADABAN

Gagasan Indonesia Berperadaban berangkat dari kesadaran bahwa kemajuan bangsa tidak semata ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi dan…
Biar Pecah di Perut, Asal Jangan Pecah di Mulut

Biar Pecah di Perut, Asal Jangan Pecah di Mulut

“Biar pecah di perut, asal jangan pecah di mulut” adalah petuah para tetua Betawi yang sarat…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *