- 13 September 2026
- No Comment
- 13
PeciMerah : Simbol Identitas, Simbol Pergerakan Moral
Oleh: Ketua Umum PeciMerah
PeciMerah sejak awal tidak kami gagas sekadar sebagai sebuah atribut organisasi.
Kami ingin PeciMerah tumbuh menjadi sebuah simbol identitas, kebanggaan dan pergerakan moral masyarakat Betawi.
Karena itu, kami tidak pernah berpikir bahwa peci merah hanya boleh dikenakan oleh mereka yang berada di dalam struktur organisasi PeciMerah.
Sebaliknya, kami justru berharap semakin banyak orang Betawi, bahkan masyarakat Jakarta dan siapa pun yang mencintai Jakarta, mengenakan PeciMerah sebagai simbol kecintaan terhadap adab, ilmu, persaudaraan, keberanian, kebangsaan dan tanggung jawab sebagai warga.
Bagi kami, PeciMerah bukan sekadar warna di atas kepala. Ia adalah pengingat tentang bagaimana kepala harus digunakan: untuk berpikir, untuk menjaga martabat, dan untuk melahirkan perbuatan yang bermanfaat.
Kami ingin mengajak masyarakat Betawi kembali kepada satu kesadaran sederhana:
Betawi bukan hanya asal-usul. Betawi adalah adab.
Menjadi Betawi bukan sekadar berbicara dengan logat Betawi, memakai pakaian Betawi, atau mengaku sebagai anak Jakarta. Lebih jauh dari itu, Betawi harus mampu menunjukkan dirinya melalui akhlak, keramahan, keberanian membela yang benar, menghormati perbedaan, menjaga kampung, merawat lingkungan dan menjunjung persaudaraan.
Dari sanalah gagasan “Betawi Beradab” kami dorong.
Dan dari Jakarta, kami ingin mengusung cita-cita yang lebih luas:
Jadikan Jakarta Kota Peradaban.
Mengusung Indonesia Berperadaban.
Karena itu, siapa pun yang mengenakan PeciMerah dengan kesadaran tersebut, sesungguhnya sedang membawa sebuah pesan moral:
“Saya ingin menjadi manusia yang beradab.”
Tidak harus menjadi pengurus.
Tidak harus memiliki jabatan.
Tidak harus berada dalam struktur.
Sebab struktur adalah urusan kelembagaan, sedangkan nilai adalah urusan hati dan perilaku.
Tentu ada batas yang harus kita jaga. Mengenakan PeciMerah tidak otomatis berarti seseorang adalah pengurus atau mewakili organisasi PeciMerah. Untuk berbicara, bertindak, membuat pernyataan, mengeluarkan surat, menggalang kegiatan atau mengambil keputusan atas nama organisasi PeciMerah, harus ada struktur, SK atau mandat yang jelas.
Tetapi untuk mengenakan PeciMerah sebagai simbol budaya, kecintaan kepada Betawi, kecintaan kepada Jakarta dan komitmen terhadap nilai-nilai peradaban, kami tidak ingin membatasinya.
Justru kami berharap suatu hari nanti PeciMerah tidak lagi dipandang sebagai atribut milik sebuah kelompok, melainkan dikenal sebagai salah satu ikon identitas Betawi yang membawa pesan moral.
Kalau peci merah ada di kepala seorang guru, semoga ia menjadi pengingat untuk mendidik dengan adab.
Kalau ada di kepala seorang pemuda, semoga ia menjadi pengingat untuk berani berbuat benar.
Kalau ada di kepala seorang pejabat, semoga ia menjadi pengingat bahwa kekuasaan adalah amanah.
Kalau ada di kepala seorang pedagang, semoga ia menjadi pengingat untuk jujur.
Kalau ada di kepala seorang warga, semoga ia menjadi pengingat untuk menjaga kampung dan sesamanya.
Dan kalau peci merah berada di kepala kita semua, semoga yang tumbuh bukan kebanggaan kosong, melainkan kesadaran untuk memperbaiki diri dan lingkungan.
Sebab pada akhirnya, yang membuat PeciMerah bernilai bukan warna merahnya, tetapi perilaku orang yang mengenakannya.
Merah harus menjadi keberanian untuk membela kebenaran.
Peci harus menjadi pengingat bahwa pikiran harus dijaga.
Dan keduanya harus bertemu dalam satu sikap:
Berani, tetapi beradab. tegas, tetapi tidak kasar. berbeda, tetapi tetap bersaudara. mencintai Betawi, tanpa membenci yang bukan Betawi.
Inilah yang kami maksud ketika mengatakan:
PeciMerah adalah simbol pergerakan moral.
Kami tidak sedang mengajak semua orang menjadi bagian dari struktur PeciMerah.
Kami sedang mengajak sebanyak mungkin orang untuk menjadi bagian dari gerakan menuju masyarakat yang lebih beradab.
Kalau kelak peci merah semakin banyak terlihat di jalan-jalan Jakarta, di masjid, di sekolah, di kampung-kampung, di ruang budaya, di tengah masyarakat, kami berharap yang ikut tumbuh bersamanya bukan sekadar sebuah mode berpakaian.
Tetapi tumbuh pula adabnya, persaudaraannya, keberaniannya, kepeduliannya dan rasa tanggung jawabnya terhadap Jakarta.
Sebab kami percaya:
Jakarta tidak akan menjadi kota peradaban hanya karena gedung-gedungnya tinggi.
Jakarta menjadi kota peradaban ketika manusianya beradab.
Dan dari Betawi, dari Jakarta, kita ingin mengirimkan pesan kepada Indonesia:
“Mari kita bangun Indonesia bukan hanya dengan pembangunan, tetapi dengan peradaban.”
PeciMerah boleh berada di banyak kepala. Tetapi nilai-nilai kebaikan harus hidup di dalam setiap perilaku.
Salam PeciMerah.
Salam Peradaban.
Ketua Umum PeciMerah
