• 4 Februari 2026
  • No Comment
  • 92

PECIMERAH: PANJI MORAL DI SAAT DARURAT AKHLAK

PECIMERAH: PANJI MORAL DI SAAT DARURAT AKHLAK

Di tengah zaman yang gaduh oleh suara, namun sepi oleh makna,
Pecimerah hadir bukan sebagai hiasan kepala,
melainkan sebagai penanda kesadaran.

Ia merah—bukan karena amarah, tetapi karena darah nurani yang masih mengalir, darah keberanian untuk berkata benar saat kebenaran dianggap gangguan.

Pecimerah berdiri di antara tangan-tangan sejarah, diangkat bukan untuk dipuja, melainkan untuk dipikul sebagai amanah. Sebab peradaban tidak runtuh oleh musuh dari luar, melainkan oleh mati rasa di dalam.

Hari ini Indonesia tidak kekurangan orang pintar,
tapi kekurangan orang benar. Tidak darurat hukum, yang darurat adalah malu.
Malu berbohong,
malu menipu,
malu mengkhianati amanah.

Di situlah Pecimerah berdiri— sebagai simbol pergerakan moral,
pengingat bahwa akhlak lebih tua dari kekuasaan,
dan adab lebih tinggi dari jabatan.

Pecimerah bukan milik golongan, bukan bendera politik, bukan pula aksesoris identitas.
Ia milik siapa saja
yang masih mau menundukkan kepala
di hadapan kebenaran.
Dalam tradisi pesantren,
iman dijaga dengan adab, ilmu ditopang dengan tawadhu,
dan kekuatan lahir dari kesucian niat.

Maka Pecimerah mengingatkan:
perubahan besar selalu dimulai dari hati yang berani jujur pada dirinya sendiri.

Jika negeri ini ingin selamat, bukan gedung yang harus ditinggikan,
tetapi akhlak yang harus ditegakkan.

Dan Pecimerah adalah isyaratnya—bahwa masih ada yang berdiri, masih ada yang menjaga, masih ada yang menolak tunduk pada rusaknya zaman.

Pecimerah bukan sekadar simbol. Ia adalah sumpah diam,
bahwa moral belum kalah, dan peradaban belum tamat.

PeciMerah Rumah Peradaban Nusantara.

Artikel Terkait

PECIMERAH DAN GAGASAN INDONESIA BERPERADABAN

PECIMERAH DAN GAGASAN INDONESIA BERPERADABAN

Gagasan Indonesia Berperadaban berangkat dari kesadaran bahwa kemajuan bangsa tidak semata ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi dan…
Biar Pecah di Perut, Asal Jangan Pecah di Mulut

Biar Pecah di Perut, Asal Jangan Pecah di Mulut

“Biar pecah di perut, asal jangan pecah di mulut” adalah petuah para tetua Betawi yang sarat…
SIARAN PERS RESMI: Penandatanganan Akta Yayasan Ilmu Syekh Junaid Albatawi

SIARAN PERS RESMI: Penandatanganan Akta Yayasan Ilmu Syekh Junaid Albatawi

Rumah Peradaban PeciMerah menginisiasi lahirnya Yayasan Ilmu Syekh Junaid Albatawi sebagai wadah pelestarian keilmuan, keagamaan dan…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *